Kamis, 13 Desember 2007

Tahapan Dalam Mencari Kerja

Ga hanya waktu ujian yang perlu persiapan matang,, dalam mencari kerja pun membutuhkan persiapan yang matang.

1. Job search dan persiapan
Ini merupakan bagian 'home work' yang perlu dipersiapkan matang2 sebelum mulai mencari kerja. Bagian ini meliputi pencarian jati diri tentang: jenis pekerjaan yg seperti apa yg diinginkan (nature of work) e.g. riset, technical, managerial, teaching, banyak ketemu orang dll. lingkungan pekerjaan yg diinginkan e.g. lokal, international, interlokal (?), outdoor, indoor. dinamika beban kerja e.g. statis (kerjaannya gitu2 mulu), dinamis (loadingnya tergantung project), gabungan. rencana karir (career path), misal: technical dulu terus nanti ke managerial, technical terus2an, managerial terus2an, dsb.

Pada dasarnya, tahapan ini merumuskan tentang "what's your dream job."

First time job seeker biasanya akan sangat idealis dalam mencari pekerjaan. Hal itu merupakan hal yg sangat wajar, karena manusia biasanya bertindak dengan skala prioritas: yg paling diinginkan diusahakan untuk dicapai terlebih dahulu.

Akan tetapi, sebagaimana hal yg diajarkan dalam Apprentice bahwa manager yg baik harus memiliki plan A, B and C, jadi pergunakan tahapan ini sekaligus untuk merumuskan selain "dream job", juga "what's your not-really dream job", "what's your not-so-really dream job", "what's your not-so-really-really dream job", dan seterusnya.

Hal ini penting, karena tujuan mencari kerja bukan hanya untuk sekedar mencari uang, tapi juga untuk mengisi hari - hari dengan melakukan sesuatu yg dapat dinikmati.

Setelah semua dirumuskan, yak, mari kita mencari kerja! Search di internet, di website sekolah, di koran, tanya2 temen, cari2 koneksi, dll.

2. Mempersiapkan aplikasi (resume dan cover letter)

Resume merupakan hal yang paling penting dalam aplikasi, karena 2 lembar kertas itulah yang akan mewakili kita dalam seleksi tahap awal. They will speak for you.

Buatlah resume dalam versi yang sistematis dan menarik perhatian *jangan digambari donal bebek !*

Emphasize pada bagian yang merupakan strength kita. Misalnya kuat di bagian akademik, buatlah sebuah bagian khusus yang menampilkan "Achievements - Academics". Kalau kuat di bagian ekstrakurikuler, buat bagian khusus untuk menuliskan "Activities". Kalau kuat di pengalaman kerjanya, taruh di bagian awal2 "Experiences".

Kalau semuanya average, di akademik so so, di ekskul juga so so, dijadikan satu aja menurut kronologis dengan heading "Academics, activities and achievements".

Cover letter (surat lamaran) hal yang penting kedua. Ini lebih bersifat costumized, tergantung dari apa yang di minta di lowongannya.

Kalau bisa, bahaslah hal2 yang diminta di lowongannya pada cover letter ini. Jadi intinya: "anda minta apa, nih saya punya, dan nih saya beri buktinya waktu saya ngerjain ini itu bla bla; dan hal2 lain yg anda minta tapi saya nggak punya, saya a fast learner dan bersedia belajar, kok.. " Yang gak punya, gak dibahas juga gak pa pa sih.

3. Interview

Interview banyak macamnya, ada yg teknikal, personal, case study, ataupun assessment centre. Ada yang one-to-one ada yang panel interview (many-to-one). So far sih belom pernah dapet yg teknikal. Interview yang pernah dijalani lebih ke personal dan case study yg bentuknya one-to-one, personal panel interview *bukan personal pan pizza !*, dan assessment center.

Interview dengan perusahaan2 riset, biasanya sangat teknis. Sebelum interview mesti belajar dulu, huhuhu.. Kalo dengan perusahaan2 besar lebih ke personal dan case study, juga assessment center.

Kalo yg personal2, biasanya pertanyaannya "tell me about yourself", "achievements", dll. Pertanyaan case study sangat challenging, soalnya pasti gak bisa disiapkan dan tidak terduga. Ini tentunya memerlukan ketenangan dan ke-PD an ketika menjawab. Yang ingin dilihat sepertinya adalah stress management, ke-PD-an dan kecepatan berpikir. Anggap saja interviewer sebagai teman diskusi, biar gak stress. *biarpun dianggap teman, tapi jangan sampe pinjem duit*

Assessment center... nah, ini bentuk yang paling menantang! Salah satu bentuknya adalah group discussion dan oral presentation. Pengalaman menjalani assessment center sekali, challenging banget!

Secara umum, persiapan sebelum interview adalah: persiapkan jawaban2 pertanyaan2 standar seperti: "tell me about yourself", dll tidur cukup malam sebelumnya. latihan artikulasi biar kalo ngomong entar gak beribet, lebih bagus latian seperti interview sama temen. last but not least, banyak2 berdoa.


4. Post Interview

Post interview adalah saat yang penuh harap2 cemas. Intinya, berserah diri saja. Kalo memang terbaik, lowongannya gak bakalan ke mana. Yang penting udah berusaha maksimal.

Intinya... Post interview itu bagaikan habis ujian/exam. Jangan merasa lega dulu, karena masih harus tetep apply2 kerjaan yang lain sebelum pasti dapet offer. Tapi jangan merasa down juga kalaupun ternyata nggak perform bagus waktu interview ataupun gagal. Harus tetap bisa bangkit dan mencari kerja lagi. Huhuhu... memang bukan hal yang gampang, tapi memang harus begitu.

Gagal dengan suatu aplikasi kerja bukanlah akhir dari segalanya. Kan jalan rejeki bukan cuman satu. Justru mungkin kita harus bersyukur karena dihindarkan dari pekerjaan yang tidak baik bagi kita. Betul tidak ??

Anyway, masalah pekerjaan adalah urusan rezeki. Jadi, ya.. mari kita minta saja pada Sang Pemberi Rezeki. Trus, kalo ada kesempatan membukakan jalur pintu rezeki bagi orang lain, let's give it a try. Siapa tahu jalan rezeki kita pun dimudahkan untuk dibukakan-Nya.

ME AND MY FRIENDS






Rabu, 12 Desember 2007

HOW TO BE A SIGNIFICANT GUITARIST

Sebetulnya, tidak ada tips and tricks mengenai hal ini. Industri musik adalah sama seperti industri lainnya yaitu BISNIS. Banyak sekali musisi yang tidak mengetahui akan hal ini hingga menyebabkan mereka gagal di industri keras ini. Ketika seseorang sudah berniat menjadi gitaris, mereka seolah meninggalkan semua pelajaran yang diajarkan di sekolahnya. Kebanyakan dari mereka sangat fokus ke skill dan melupakan dunia luar dan menjadi anti-sosial. Mengurung diri di kamar dan mengulik lagu selama berjam-jam itu sah saja tetapi biasanya tidak diimbangi dengan social networking sehingga ketika tiba saatnya keluar kamar dan memperlihatkan skill, mereka tidak tahu harus kemana.

Menurut saya, musisi itu harus bisa menjual diri.... ya, sell yourself, itulah yang dibutuhkan di industry ini agar orang notice bahwa anda adalah seorang gitaris berbakat yang bisa bermain sangat cepat. Oh, tetapi apa yang terjadi? Ketika anda sudah berada di luar kamar hasil berjam-jam mengulik lagu, anda mendapati bahwa sangat banyak sekali gitaris seperti anda, bahkan yang lebih cepat dari pada anda. Apa yang akan terjadi kemudian? Anda akan tenggelam diantara sekian banyak gitaris tersebut dan jangan harap bahwa anda akan dikenal dan menonjol karena anda hanya 1 dari sekian banyak gitaris yang bermain tipikal.

Apa yang akan anda lakukan?

Hhmm... mungkin memperbanyak referensi adalah salah satu hal yang bisa dilakukan. Bukalah pikiran anda dengan berbagai macam musik di dunia ini. Cobalah melihat dari sisi musik bukan skill. Nikmati saja musiknya, bukan image-nya, karena sekarang kita banyak sekali mendapati image musik itu lebih berpengaruh dari pada musiknya. Misalnya, anda tidak mau mendengar musik dangdut karena takut dibilang kampungan (maaf, ini hanya contoh saja). Disini, anda adalah korban dari pada kepicikan pikiran anda sendiri. Anda “melihat” musik bukan “mendengar” musik.

Hal berikutnya yang bisa anda lakukan mungkin adalah introspeksi diri sendiri. Cobalah anda berkaca sambil bermain gitar, lalu tanya pada diri sendiri “sebetulnya, style gue nih gimana sih?”. Bisa juga dengan menulis 10 kelebihan dan 10 kekurangan anda dalam bermain gitar. Disini akan terlihat sebetulnya, tipe gitaris seperti apa anda. Apakah anda sebetulnya hebat di tapping? Apakah anda jago sweeping? Apakah anda konstan dalam rhythm?

Dengan melihat kelebihan diri sendiri, anda akan menyadari bahwa anda adalah seseorang dengan beberapa kelebihan dan sebaiknya anda mulai semakin mendalami kelebihan ini dan tidak terlalu memikirkan kekurangan anda. Bahkan apabila mungkin, jadikan kekurangan anda ini sebagai kelebihan. Misalnya, anda ternyata sangat asyik bermain rhythm tetapi lemah dalam bermain lead. Manfaatkan rhythm anda itu menjadi kelebihan dengan memainkan beat dan tempo serta groove, lupakanlah mengisi lead gitar karena anda sucks... ya, anda payah bermain lead, jadi manfaatkanlah kelebihan rhythm anda.

Ingat, anda adalah produk. Suatu produk harus mempunyai USP (Unique Selling Point) untuk bisa mendapat attention diantara sekian banyak produk. USP itu didapatkan dari research. Ketika anda bergaul, anda sudah melakukan research. Anda akan semakin notice kalau anda mempunyai beberapa kelebihan yang tidak dimiliki orang lain di dunia musik ini. So, lakukan research sebanyak mungkin dan akan lihat dimana anda bisa fit-in dan disitulah anda akan dikenal karena anda unik. Anda akan menjadi beda dari gitaris lain dan mempunyai karakter permainan sendiri.



Oleh : Iman Fattah
Penulis adalah anggota forum Gitaris.com yang juga bekerja sebagai music director dan produser rekaman.

Sabtu, 08 Desember 2007

Menyiasati kuliah sambil kerja

- Pilihan kuliah di awal karir
Saat Anda baru mulai bekerja, sangat bijak untuk tidak memikirkan rencana kuliah. Apalagi status kerja masih sebatas karyawan kontrak. Karyawan baru biasanya identik dengan masa adaptasi dan penugasan bertubi-tubi. Tujuannya antara lain untuk mengukur kinerja dan loyalitas karyawan terhadap perusahaan. Dalam kondisi seperti ini, lebih baik fokus pada pekerjaan kantor tanpa menambah beban kuliah yang dapat mengganggu konsentrasi kerja.
- Manajemen waktu
Tidak ada istilah week-end atau berleha-leha bagi siapapun yang bekerja sambil kuliah. Waktu Anda akan terkuras habis untuk menyelesaikan pekerjaan kantor dan tugas kampus. Anda harus piawai mengatur jadwal dan memangkas waktu santai, sehingga semuanya bisa terlaksana dengan baik, termasuk waktu untuk keperluan keluarga.
- Persiapan budget khusus
Selain membutuhkan waktu ekstra, kuliah juga membutuhkan pengeluaran tambahan, setidaknya untuk biaya transport dan makan. Pengeluaran rutin ini jelas berdampak pada cash-flow. Untuk itu, lakukan penghematan dan pengetatan anggaran dengan memangkas beberapa pos pengeluaran yang tidak penting. Anda juga harus siap mengorbankan tabungan atau alokasi investasi lainnya.
- Universitas Terbuka (UT)
Bila Anda merasa kerja sambil kuliah sulit dijalani, mengapa tidak mengambil program studi di Universitas Terbuka? Ya, perguruan tinggi negeri yang menerapkan sistem kuliah jarak jauh ini bisa menjadi solusi bagi Anda yang tidak bisa mengikuti sistem perkuliahan tatap muka. Agar sukses meraih gelar S2, diperlukan kemandirian dan motivasi kuat. Di jenjang S2, Universitas Terbuka telah membuka tiga program studi, yaitu Magister Administrasi Publik, Magister Manajemen dan Magister Manajemen Perikanan.

Sikap Penuh Harap Selamatkan Penderita Stroke

Korban stroke yang merasa pesimis atau tak punya harapan untuk sembuh, lebih cepat meninggal ketimbang sesama penderita yang lebih optimistik. Begitu hasil sebuah riset yang melibatkan 372 pasien stroke.

Dari pasien sejumlah itu, mereka yang paling tak punya harapan, kemungkinannya 79 persen lebih tinggi untuk meninggal dalam tempo lima tahun ketimbang mereka yang paling bersikap positif terlepas dari berapa usia dan penyakit lain yang mereka derita.

Demikian pula menurut survei yang dimuat di Journal of the American Heart Association bulan Juli itu, mereka yang selamat dari stroke tapi merasa tidak ada harapan lebih baik, berkemungkinan 58 persen lebih tinggi untuk cepat meninggal dibanding mereka yang penuh harapan.

"Sikap pasien terhadap penyakit mereka tampaknya berkaitan dengan selamat-tidaknya pasien setelah serangan stroke," ujar Dr. S. C. Lewis dari Western General Hospital di Edinburgh, Skotlandia, yang memimpin penelitian itu.

Temuan itu menunjang riset-riset sebelumnya yang mengisyaratkan adanya kaitan kuat antara sikap dan kesehatan. Sebelumnya, sebuah penelitian juga menyimpulkan, pasien kanker payudara yang paling merasa tak punya harapan lebih cepat meninggal dibanding mereka yang punya sikap sebaliknya.

Demikian pula para pria pengidap HIV yang bersikap positif, mampu lebih lama bertahan hidup dan kadar pertumbuhan penyakitnya berhasil dihambat.